Aku setuju dgn pendapat Raditya Dika pada salah satu twit nya kemarin tentang Bahaya Laten Twitter. Yaiyalah, sebagai orang yg punya profesi sama yaitu blogger, aku jadi makin jarang nulis sesuatu apapun itu di blog karena lebih sering dicritakan lewat akun twitter itu. Ahh, yasudahlah, mumpung dan mumpung aku ada sedikit waktu luang, aku mau ngepos sedikit di blog.Djogja, 30 Oktober 2010
Hari ini aku persiapan mau ke Semarang untuk pengambilan kartu tes CPNS (Akhirnya niat kerja juga), dan ditemani oleh si penakluk pria, eh maksudnya penakluk wanita, Suluh, aku berangkat menaiki si Vega (ini motor, bukan orang). Tapi pagi ini suasananya berbeda. Gunung Merapi yg dari tgl 25 Oktober bergejolak, pada pagi ini meletus utk yg ke-3 kalinya. Dan hasilnya baru kali ini hujan abu sampai daerah rumahku, Mbantul. Bahkan sudah sampai Gunung Kidul dan Wates juga. Benar2 dahsayt efeknya. Tapi itu ga menghalangi langkah 2 lelaki sejati dan hmm Luh koe sejati ora? Baiklah kita tetap menuju Semarang.
Ekspresi Suluh saat hujan abu menurutmu apa:Selama perjalanan menuju Semarang, keadaan Ringroad utara sampai jalan Magelanglah yg paling parah karena hujan abu tersebut. Sampai2 jarak pandang hanya sekitar 20 meter. Untuk itu aku sempat mengabadikan keadaan jalanan tersebut melalui jepretan kamera.
a. Dia meloncat2 lalu menekuk lututnya dan mengangkat kedua tangannya tanda ingin menangkap abu yg dikira salju dari langit.
b. Langsung mengumpulkan abu dan di buatlah boneka salju dari abu.
c. Bersyukur dan kemudian mengambil semangkok abu untuk cuci piring yg kebetulan pas sabun piringnya habis.
Alhasil, karena debu yg beterbangan dan sangat mengganggu hidung, mata, dan Superman yg sedang terbang maka bajuku yg sangat rapi dan didesain khusus untuk pengambilan kartu itupun menjadi kotor sekali. Celana kain ku udah kayak celana sehari2 Suluh, bukan maksudnya udah kayak habis perang. Kotor, dan seperti berlumpur. Bahkan saat aku memompa ban di bengkel, tukang pompa nya sampai bilang, “Mas, kecemplung di got mana? Kok itu kotorannya masih menempel (sambil menunjuk Suluh)”. Haha, Suluh lagi Suluh lagi..
Prosesi dan prosesi pun kita lakukan dan akhirnya kelar juga pengambilan kartu tersebut. Kami mampir di warung Pak X (Gatau namanya) untuk makan siang, sambil tanya2 alamat.
Seusai itu, kita langsung cabut utk kembali ke Jogja, karena tujuan kali ini memang hanya mengambil kartu tes aja, jadi ya ga ada rencana utk maen2 ke semarang dulu. Jadi ya pantat ini gempor segempor2nya, lha cuma istirahat sebentar doang. Dan tentu saja sesampai di Jogja (Ringroad) perang abu pun dimulai kembali. Tadinya baju udahh mendingan ga kotor, eh sekarang kena abu lagi. Apesnya lagi dari Jalan Magelang hujan udah turun, eh di ringroad ga hujan. Yasudahlah, pasukan bermantol tolol tetap melaju dengan mantol hujan alias jas hujan ditengah badai gurun disebuah kota.
Sesampai dikediaman Suluh:
Inilah kisah perjalanan 2 pengelana kentir yg aku sumpelkan di blog ini. Semoga kisah ini mampu mengobati kerinduan agan2 semua yg lama sudah tidak membaca blog ku. Kita nantikan lagi cerita tentang perjalanan tersebut yg mungkin akan berlanjut minggu depan nanti. Berharap juga semoga abu vulkanik dan musibah merapi segera cepat teratasi biar aman dan nyaman seperti Jogja dulu. Tentu saja semoga bahaya Laten Twitter akan segera berhenti supaya bisa sering2 lagi nulis di blog. Duh mripatku kilipen.. Oiya laten tu artinya apa ya? Asal jiplak aja tadi, hehe


0 Celotehan:
Posting Komentar